Perbedaan Gelar Akademik Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada

Dulu, semua mahasiswa pasca sarjana (s2) baik di Universitas Indonesia (UI) maupun Universitas Gadjah Mada menyandang gelar yang sama yaitu Magister Sains atau biasa disingkat dengan M.Si. Namun sekarang ada perbedaan yang mencolok tentang pemberian gelar akademik terutama untuk jenjang program pasca sarjana atau magister pada dua universitas terbaik di Indonesia tersebut.

Pemberian gelar akademik UGM menimbang misi UGM sebagai universitas bertaraf internasional maka pemberian gelar akademik di universitas mengacu pada gelar internasional, seperti Master of  Science in Economic disingkat M.Sc untuk program studi ilmu ekonomi atau Master of Arts disingkat MA untuk program studi ilmu politik, ilmu hubungan internasional, sosiologi dan lain sebagainya. Peraturan yang mengatur hal ini tertuang dalam Keputusan Rektor Universitas Gadjah Mada No 292/P/SK/HT/2008 tentang Gelar dan Sebutan Lulusan Program Pascasarjana (s2) Universitas Gadjah Mada

Berbeda dengan UGM, UI memberikan gelar pasca sarjana atau magister (s2) dengan bidang keahliannya dan tetap menggunakan bahasa indonesia, seperti untuk program studi kesejahteraan sosial maka gelar yang didapat adalah Magister Ilmu Kesejahteraan Sosial disingkat M.Kesos, Magister Sosiologi disingkat M.Sos. Ketentuan mengenai pemberian gelar ini diatur dalam Keputusan Majelis Wali Amanah Universitas Indonesia No.009/SK/MWA-UI/2009 tentang gelar di lingkungan Universitas Indonesia.

Insentif untuk Riset Pendeteksi Korban Gempa

Jakarta, Kompas – Insentif dana riset dari Indonesia Toray Science Foundation digunakan antara lain untuk penelitian robot pendeteksi korban bencana gempa. Meski tidak besar, insentif dari perusahaan Jepang itu ikut menggairahkan iklim penelitian di Indonesia.”Saya menggunakan teknologi robot haptics, dengan metode kontrol bilateral,” kata periset Abdul Muis dari Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, Rabu (9/2) di Jakarta. Ia mendapat dana riset Rp 35 juta.

Perusahaan Toray Industries Inc dari Jepang memiliki 10 perusahaan patungan yang beroperasi di Indonesia. Sejak tahun 1993, perusahaan itu membentuk Indonesia Toray Science Foundation (ITSF) untuk membantu pengembangan riset.

Sebanyak 19 riset periode 2009-2010 dibiayai dengan dana Rp 3 miliar. ”Penelitian itu tidak ada hubungan dengan usaha Toray,” kata Ketua ITSF Soefjan Tsauri.

Abdul Muis mengatakan, robot untuk bencana gempa dengan teknologi haptics lebih akomodatif terhadap kondisi lapangan. Teknologi robot ditujukan untuk mendeteksi keberadaan korban di bawah reruntuhan puing bangunan akibat gempa.

”Dengan kontrol bilateral, maka dibutuhkan master yang menunjang pengendalian robot secara lebih akurat,” kata Abdul Muis.

Menurut Abdul Muis, keterbatasan anggaran menjadi salah satu kendala pengembangan riset di Indonesia. Padahal, kapasitas para ilmuwan cukup memadai untuk menunjang berbagai kebutuhan negara.

Secara terpisah, Amin Soebandrio, Staf Ahli Menteri Riset dan Teknologi, mengatakan, saat ini alokasi anggaran riset baru mencapai 0,04 persen dari produk domestik bruto (PDB). Jumlah ini jauh tertinggal dibanding negara-negara tetangga yang memiliki dana riset mencapai 1 persen dari PDB.

Beberapa periset lain yang menerima dana insentif ITSF 2009-2010 juga menunjukkan keandalannya. Ika Roostika Tambunan dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetika di bawah Kementerian Pertanian berhasil mengembangkan metode penyimpanan plasma nutfah pisang.

”Peralatan penyimpanan plasma nutfah pisang dengan volume 34 liter bisa untuk menyimpan 2.000 sampai 3.000 kalus (struktur regenerasi pisang) sampai puluhan tahun,” kata Roostika.

Fatimah, periset lain dari lembaga sama dengan Roostika, memanfaatkan dana insentif dari ITSF untuk mengidentifikasi gen penting padi lokal. Tujuannya supaya padi tahan serangan penyakit bacterial leaf blight (BLB) atau penyakit kresek yang mengakibatkan gagal panen karena daun padi mengering.(NAW)

Beasiswa Paripurna untuk Bangsa (Beasiswa jadi Dokter di UI)


FKUI adalah salah satu lembaga pendidikan kedokteran terkemuka yang menjadi acuan nasional dan hingga saat ini masih menjadi pilihan bagi calon mahasiswa dari seluruh Indonesia. Dengan dibukanya berbagai jalur masuk ke UI, (antara lain, melalui PPKB dan SENAMPTN), maka mahasiswa yang menjalani pendidikan di FKUI – pun berasal dari berbagai wilayah di Indonsia dengan latar belakang sosial ekonomi yang beragam. Sejalan dengan itu, timbul permasalahan dalam biaya pendidikan di FKUI dan biaya hidup di Jakarta yang menjadi kendala dan hambatan bagi para calon mahasiswa, sehingga calon mahasiwa berkecil hati dan pesimis, merasa tidak mampu menjalani pendidikan di FKUI.

Mengecap pendidikan, termasuk pendidikan tinggi adalah hak setiap warga negara Indonesia. Oleh sebab itu, disusunlah suatu program yang bernama Beasiswa Paripurna untuk Bangsa (BPuB), untuk memperluas akses mahasiswa berpotensi dengan latar belakang ekonomi yang kurang. Program ini tidak hanya membantu  biaya pendidikan, tetapi juga biaya hidup dan fasilitas akademik. Dengan diadakannya program ini diharapkan dapat terbentuk dokter-dokter berkualitas yang berbakti untuk bangsa.

I. Calon Penerima Beasiswa

A. Persyaratan:

(SELEKSI tahap I)

Hal-hal yang harus disiapkan oleh calon penerima beasiswa antara lain:

a. Sudah diterima sebagai mahasiswa UI 2011
b. Surat pengajuan permohonan Beasiswa Paripurna Untuk Bangsa *
c. Portofolio kegiatan ekstrakulikuler selama di SMA
d. Fotokopi laporan akademik(raport)
e. Esai bertemakan “Bila Saya mendapat Beasiswa Paripurna untuk Bangsa”. 1500 – 2000 kata *

*ditulis tangan , dalam folio bergaris

Berkas dikirimkan melalui email ke hpeq.fkui@gmail.com dan pos yang ditujukan kepada:

Panitia Seleksi BPuB
Bagian Kemahasiswaan  FKUI
Jln. Salemba Raya No. 6
Jakarta 10430

Tenggat waktu pengiriman email dan berkas adalah 3 (tiga) minggu cap pos setelah pengumuman penerimaan mahasiswa UI.

Kriteria penerima beasiswa antara lain:

a. Dari hasil seleksi tahap I, tim evaluasi akan memilih mahasiswa yang ulet, jujur, dan memiliki riwayat pendidikan yang baik dan dianggap membutuhkan  beasiswa ini untuk mengikuti seleksi selanjutnya yaitu psikotes dan wawancara oleh tim seleksi.
b. Mengajukan keringanan biaya pendidikan melalui proses BOP-B
c. Setelah dinyatakan LULUS ujian psikotes dan wawancara dan berhak menerima beasiswa, mahasiwa HARUS menandatangani PERJANJIAN BERSEDIA TIDAK MENIKAH selama menerima beasiswa dan bersedia menjalani segala konsekuensinya

Penerima beasiswa harus memenuhi kewajibannya, yaitu

a. Mempertahankan prestasi akademik dengan IPK minimal 2,75.
b. Harus ikut aktif minimal satu kegiatan ekstrakurikuler
c. Senantiasa berkomunikasi dengan pembimbing akademik (PA), minimal satu bulan sekali.
d. Membuat catatan dan bukti penggunaan dana beasiswa yang dilaporkan kepada PA secara periodik satu bulan sekali, sebelum tanggal 10.
e. Selalu bersikap sopan dan menjunjung tinggi etika, tidak melanggar tata tertib kehidupan kampus, dan tidak terlibat dalam tindak pidana apapun.
f. Menyimpan dana beasiswa dalam rekening tabungan.
g. Mau bekerja dan berniat untuk membangun daerah yg membutuhkan

Penerima beasiswa berhak:

a. Menerima dana beasiswa sesuai jadwal disbursement. Disbursement dana:
-Living cost Rp. 9.000.000,- per semester dibayarkan kepada mahasiswa setiap tanggal 10 pada awal semester melalui Koordinator Kemahasiswaan dan Alumni FKUI ( setelah menyelesaikan pertanggungjawaban pengeluarannya sebelum tgl 10 awal semester tersebut)
-Uang buku Rp. 6.000.000,- per tahun dibayarkan kepada mahasiswa setiap tanggal 1 pada awal tahun akademik melalui Koordinator Kemahasiswaan dan Alumni FKUI(mahasiswa wajib menyerahkan bukti penggunaan pembelian bukunya)
-Dana survey daerah Rp. 5.000.000,- per kunjungan per tahun (untuk tahun 2, 3 dan 4) dibayarkan pada tanggal 1 di awal semester genap setelah mahasiswa menyerahkan rincian tertulis rencana survey.
b. Didampingi dan dipantau oleh PA
c. Mendapatkan “Kakak Angkat”, yaitu mahasiswa senior yang dapat membantu mengatasi kesulitan akademik maupun nonakademik.
d. Sisa uang beasiswa menjadi milik mahasiswa penerima
e. Mendapatkan konseling apabila membutuhkan.
f. Atas dugaan penerima beasiswa tidak dapat memenuhi kewajibannya, berhak memberi penjelasan untuk mendapat pertimbangan.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi:
Bagian Kemahasiswaan FKUI a.n. Ibu Emi 08129646237 / (021)  31930373

 

Dosa Perencana Pembangunan

Bagong Suyanto

Terlepas dari cara dan pilihan kalimat yang mungkin terkesan keras, apa yang dikemukakan para tokoh itu sebetulnya mencoba mengajak pemerintah untuk tidak terlalu larut dalam indikator makro pembangunan yang acap kali kurang memerhatikan realitas di tingkat mikro.

Mahbub ul Haq (1983), salah seorang ahli kemiskinan dari kubu teori ketergantungan, jauh-jauh hari telah mengingatkan, betapa bahayanya jika para perencana pembangunan terlalu percaya dan memuja angka statistik, sebaliknya tidak peka pada isu-isu dan persoalan nyata masyarakat miskin sehari-hari.

Ketika pemerintah atau negara mengklaim telah berhasil menghela laju pertumbuhan ekonomi dan asyik menghitung tingkat penanaman modal, biasanya yang dilupakan adalah apakah arus investasi yang masuk itu dipergunakan untuk kegiatan industri yang ramah tenaga kerja lokal atau tidak?

Tidak sedikit kasus membuktikan bahwa industrialisasi, yang berhasil didorong perkembangannya di sejumlah wilayah, ternyata sering kali lebih banyak menguras kekayaan sumber daya alam, menyebabkan kerusakan lingkungan, dan bahkan memarjinalkan masyarakat lokal.

Salah satu dosa perencana pembangunan yang paling tidak bisa dimaafkan, menurut Mahbub, adalah ketika para perencana pembangunan terlalu terpukau oleh tingginya laju pertumbuhan produk domestik bruto dan mengabaikan tujuan sebenarnya dari usaha pembangunan.

Kritik Mahbub memang tidak ditujukan kepada Indonesia, tetapi pertanyaan kritis yang dikemukakan Mahbub kepada negara tempat ia melakukan studi—Pakistan—sebenarnya bisa juga menjadi bahan introspeksi bagi Pemerintah Indonesia: Apalah artinya pertumbuhan ekonomi tinggi jika di sisi yang lain masih terjadi polarisasi tingkat kesejahteraan dan kesenjangan antardaerah yang mengusik rasa keadilan?

Indikator makro

Mengacu indikator kinerja pembangunan yang diekspos Badan Pusat Statistik dan bahkan sejumlah lembaga internasional, harus diakui apa yang dilakukan pemerintah selama ini telah membuahkan hasil: mendongkrak kembali angka pertumbuhan ekonomi dan mengurangi jumlah absolut penduduk miskin. Semua itu bukanlah hal mudah sehingga apa yang dicapai pemerintahan SBY-Boediono tetap perlu untuk diapresiasi.

Akan tetapi, masyarakat miskin tentu bukan sekadar membutuhkan laporan keberhasilan pembangunan dan angka-angka statistik, bukan pula sekadar perencanaan program pembangunan yang diskenariokan untuk kepentingan masyarakat miskin. Mereka terutama membutuhkan program pembangunan yang benar-benar berjalan efektif, bisa diakses, dan yang tak kalah penting program itu harus pula bersifat kontekstual.

Di tengah kondisi perekonomian yang masih belum sepenuhnya pulih, tekanan kebutuhan hidup yang makin mahal, iklim persaingan usaha yang makin ketat, dan lapangan kerja masih sulit didapat, kita tentu sepakat bahwa di Tanah Air ini masih banyak keluarga miskin yang kehidupannya makin terpuruk dan terjebak dalam spiral kemiskinan yang membelenggu. Sebuah keluarga miskin yang sumber penghasilannya makin kecil, sementara biaya untuk memenuhi kebutuhan hidup makin melambung, tentu akibatnya bisa dengan mudah diprediksi: mereka makin rentan dan papa.

Dalam beberapa kasus, yang disebut keluarga miskin memang terkadang mampu tetap bertahan dan bahkan bangkit kembali, terutama jika mereka memiliki jaringan atau pranata sosial yang melindungi dan menyelamatkan. Tidak sedikit pula keluarga miskin yang berhasil memberdayakan diri dan keluar dari tekanan kemiskinan setelah mereka memperoleh dukungan dana dan program dari pemerintah. Namun, seseorang atau keluarga yang jatuh pada spiral atau perangkap kemiskinan, umumnya, sulit untuk bangkit kembali.

Seseorang yang dibelit perangkap kemiskinan acap kali tidak bisa ikut menikmati hasil pembangunan dan justru menjadi korban pembangunan, rapuh, tak meningkat kualitas kehidupannya, dan bahkan acap kali justru mengalami penurunan kualitas kehidupan.

Di daerah di mana industrialisasi tengah berkembang sangat pesat, tidak selalu ada jaminan bahwa perubahan yang terjadi juga melibatkan partisipasi masyarakat lokal. Bahkan, bukan tidak mungkin masyarakat miskin yang ada di daerah itu justru hanya menjadi penonton dan mengalami penurunan taraf kehidupan karena terjadinya proses invasi dan suksesi pemilikan aset produksi penduduk asli kepada para pendatang.

Rakyat tak butuh janji

Dalam posisi yang serba tidak berdaya, rentan, dan mengalami proses marjinalisasi, apa yang dibutuhkan masyarakat miskin bukanlah janji-janji politik, apalagi klaim-klaim yang sifatnya reaktif. Yang lebih penting adalah bagaimana pemerintah bersedia turun ke bawah, mendengar dan menyaksikan langsung berbagai problem yang mereka alami sehari-hari dan mengembangkan pendekatan yang disebut Robert Chambers (1987) sebagai pendekatan learning from the people, yakni pendekatan yang menempatkan masyarakat miskin benar-benar sebagai subyek pembangunan.

Dengan demikian, tugas pemerintah adalah bersedia mendengar apa sebetulnya yang dibutuhkan masyarakat miskin, dan sekaligus belajar dari masyarakat miskin tentang cara yang paling efektif dan kontekstual untuk memberdayakan taraf kehidupan dan meningkatkan posisi tawar mereka.

Berdebat apakah pilihan kosakata ”pemerintah telah berbohong” itu terlalu keras dan cenderung provokatif, mungkin perlu dilakukan dalam rangka menumbuhkan etika berdemokrasi dan untuk menghindari kekeliruan dalam proses penyampaian pesan.

Akan tetapi, alangkah lebih arif jika kritik sekeras apa pun tidak lantas disikapi dengan reaktif, tetapi justru diperlakukan sebagai masukan yang berharga untuk memperbaiki dan memastikan agar program-program pembangunan yang disusun pemerintah lebih bisa dijamin efektivitas dan implementasinya di lapangan.

Angka statistik dan kehidupan nyata, bagaimanapun, adalah dua hal yang berbeda. Bagi masyarakat miskin, apa yang mereka butuhkan adalah bagaimana pemerintah bisa segera menerjemahkan angka-angka statistik yang makro itu dalam kehidupan nyata secara berkeadilan.

Bagong Suyanto Dosen Kemiskinan dan Kesenjangan Sosial di Departemen Sosiologi FISIP Universitas Airlangga


Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2011/01/22/04455412/dosa.perencana.pembangunan

Beasiswa Unik Pakai Ayam Kampung

Beasiswa ini cukup unik dan menarik untuk diaplikasikan ke daerah lain karena ayam kampung menjadi perantara antara donatur dengan penerima beasiswa. Penulis sendiri punya pengalaman tersendiri dengan berternak ayam kampung, ingat masa kecil dulu ketika masih kelas 4 SD, nyaris orang tua tidak memberikan uang saku untuk jajan ke sekolah tapi penulis mempunyai beberapa ekor ayam kampung.  Salah satu ayam betinanya sengaja untuk dijadikan ayam petelor dengan artian ayam tersebut tidak disiapkan untuk menjaga anaknya. Setiap ayam tersebut bertelor, telornya harus diambil dan pada suatu hari penulis pengen makan indomie goreng (pada saat itu harganya Rp.200 sama dengan harga jual 1 butir telor, sekarang sama ngak yach) padahal belum punya uang.  ayam betina itupun masih berkotek-kotek tidak bertelor-telor juga. Penulis intip proses keluarnya telor dan ketika telor itu keluar, ayam betinapun langsung dikeluarkan dari sangkarnya. Ternyata kejam juga yach penulis, jadi curhat tentang ayam kampung nich.

Oke bagi rekan-rekan tertarik untuk menjadi donatur atau mengaplikasikan program bisa disimak infonya dibawah ini

Donasi beasiswa u/ anak2 bermacam bentuknya. Ada yg diwujudkan barang ada yg berupa uang tunai yg kemudian dikelola si penerima, dll.

Tlatah Bocah menginisiasi beasiswa yg sedikit unik, yakni memberikan anak-anak Merapi berupa ayam kampung siap telur.

KENAPA?

Ayam sangat dekat dg kehidupan dusun. Hampir setiap keluarga mempunyai piaraan ini. Disamping harganya murah, pemeliharaannya cukup praktis. Cukup dipanggil “kuuurr…kuuurrr..kuuur..” pasti mendekat krn saat itulah makanan sdh disajikan pemiliknya.

Tlatah Bocah mengajak siapa saja berpartisipasi ikut program 1 anak 1 ayam u/ anak2 Merapi. Anak kelas 4 – 9 akan mendapatkan 1 ayam kampung indukan siap bertelur dan mereka memeliharanya. Hal ini mengajari anak: bertanggung jawab, merawat hewan, & menabung.

BAGAIMANA CARANYA?

1. Beasiswa berupa hibah paket 1 ayam + perawatannya Rp 150.000,-
2. Partisipan sukarela mendonasikan sejumlah uang untuk program tersebut,
3. Apabila donasi setiap partisipan kurang / lebih dari nilai tsb diatas, akan digabungkan dg partisipan lain,
4. Penerima hibah adalah anak-anak kelas 4-9 di lereng Merapi (1 ayam kampung siap telur) dan ketua RT/kepala dusun setempat (1 ayam jantan)
5. Pemberian hibah dilakukan setelah terkumpul sejumlah donasi sesuai jumlah anak kelas 4-9 di satu dusun,
6. Dusun yang dipilih dimulai dari dusun yang sedikit jumlah anak usia penerima hibah dan diprioritaskan dusun yang paling dekat dg lereng merapi serta akses terpencil dibanding yang lain,
7. Anak wajib memelihara dan merawat ayam indukan tersebut untuk berkembang biak, ketua RT/kepala dusun wajib merawat ayam jantan dan mengawasi perkembangan ayam-ayam hibah di RT/dusunnya.
8. Anak memberikan 2 anak ayamnya untuk dipelihara anak lain di dusun lain (bergulir)

Saat ini 16 teman2 kecil di Dusun Ngandong, Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang mendapatkan paket hibah kolekti kawan2 dari Pulau Nunukan, Kalimantan (dekat Malaysia).

Ayo siapa mau berpartisipasi? Berapapun donasi Anda, akan sangat bermanfaat bagi pembelajaran anak. Masih ada anak-anak dari 19 dusun lain yang siap mensukseskan program ini. Bagaimana dengan Anda?

Program ini tdk murni dr gagasan kami namun merupakan rangkuman dr apa yg telah banyak dilakukan kawan2. Tidak ada hak cipta disini. Kawan2 dpt pula berperan dengan meneruskan ide program ini pada kawan lain, dapat mengaplikasikannya pada lingkungan sendiri.

Mari bergerak bersama, membangun negeri dengan hal kecil.

INFO:
Facebook: Tlatah Bocah
Email: TlatahBocah@gmail.com
Twitter: @tlatahbocah
Telpon: 081802723030
Kontak: Gunawan

Sekretariat:
TLATAH BOCAH
d/a Rumah Pelangi
Jl. Talun Km 1 no. 57B Patosan
Muntilan – Magelang 56412