Kemiskinan dan Perlindungan Sosial di Indonesia (Menggagas Model Jaminan Sosial Universal Bidang Kesehatan)[1]

Oleh:

Habibullah, S.Sos, M.Kesos[2]

 

Pengantar

Pertama-tama, saya beri apresiasi terhadap penulis Bapak Edi Suharto, Ph.D atas sumbangan pemikiran beliau baik yang dituangkan melalui buku ataupun website:http://www.policy.hu/suharto. Buku-buku: Kebijakan Sosial sebagai kebijakan publik (Bandung: Alfabeta, 2008 edisi kedua), Analisis Kebijakan Publik: Panduan Praktis Mengkaji Masalah dan Kebijakan Sosial (Bandung, 2008 edisi keempat), Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat: Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial (Bandung: Refika Aditama, 2006 edisi kedua). Ketiga buku tersebut, semasa saya kuliah merupakan referensi utama dalam menulis tesis terutama yang terkait dengan kesejahteraan sosial sehingga ada teman ketika bimbingan penulisan tesis pada seorang dosen menyatakan bahwa disuruh nyari referensi lain selain Edi Suharto, Ph.D dan Prof. Isbandi Adi Rukminto, Ph.D. Hal tersebut disebabkan masih kurangnya referensi yang berkaitan dengan ilmu kesejahteraan sosial dan pembangunan sosial yang mampu memberikan referensi yang mudah dipahami. Dan tulisan-tulisan Bapak Edi Suharto, Ph.D merupakan satu diantara referensi yang mudah dipahami dan cukup “membumi” bagi ranah ilmu kesejahteraan sosial terutama yang berkaitan dengan kebijakan sosial.

Buku yang saya bedah ini, sangat bermanfaat bagi referensi untuk penelitian-penelitian yang akan dilakukan oleh Puslitbang Kesos kedepan seperti penelitian yang mengambil tema-tema kemiskinan, perlindungan dan jaminan sosial maupun sebagai referensi untuk penulisan policy papers (naskah kebijakan) karena buku ini dikembangkan dari dua policy papers yaitu Proyek Perlindungan Sosial Bagi Orang Dengan Kemampuan Khusus (ODKK) Menkokesra dan Naskah Kebijakan The Hatta Project kerjasama Perkumpulan Prakarsa dan The Asia Foundation.

Buku ini terdiri dari dua bagian. Bagian satu, yang terdiri dari 5 bab, membahas beberapa topik yang menyangkut dimensi kemiskinan, pendekatan berbasis hak, kebijakan publik, serta konsep dan beberapa contoh skema perlindungan sosial. Bagian ini merupakan fondasi untuk memahami mozaik dan isu-isu perlindungan sosial, khususnya jaminan sosial bidang kesehatan, yang diurai oleh 6 bab pada Bagian dua. Bagian Dua pada intinya mendiskusikan korelasi antara pembangunan dan jaminan kesehatan di Indonesia saat ini. Model-model jaminan kesehatan dibeberapa negara maju dan berkembang juga dibahas untuk dijadikan pelajaran dan basis dalam menggagas model pembiayaan jaminan kesehatan universal yang berkeadilan berkelanjutan. Bab terakhir dari buku ini mengajukan strategi dan rekomendasi model jaminan kesehatan alternatif yang progresif dan insklusif, seraya tetap memperhatikan faktor ekonomi dan sosio kultural Indonesia. Buku ini juga dilengkapi juga dengan Undang-Undang No. 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional dan Undang-Undang No. 11 tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial.


[1] Disampaikan pada Bedah Buku Kemiskinan dan Perlindungan Sosial di Indonesia Menggagas Model Perlindungan Sosial Universal Bidang Kesehatan Karya Edi Suharto Penerbit Alfabeta tahun 2009 di Puslitbang Kesos pada tanggal 1 November 2011

[2] Peneliti Pertama Puslitbang Kesos Kementerian Sosial RI, Alumni Jurusan Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan (Sosiatri) Fisipol UGM (S1) dan Program Magister Ilmu Kesejahteraan Sosial Fisip UI (S2)

Review dan Evaluasi Program Penanggulangan Kemiskinan Asia Development Bank

Program penanggulangan kemiskinan di Indonesia mendapat kritik dari berbagai pihak dan memerlukan evaluasi terhadap perbaikan program. Kritik tersebut mulai dari perencanaan program yang bersifat top down, program yang tidak tepat sasaran, pelaksanaan program yang asal-asalan maupun pilihan model program yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat miskin itu sendiri serta besarnya biaya yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang diharapkan.

Tabel.  Hasil Review dan Evaluasi Program Penanggulangan Kemiskinan

No

Nama Program

 

Diagnosis &Analisis Kemiskinan

 

Tujuan, Indikator & Target Program

Perencanaan

Pelaksanaan

Monev

1

Program Kompensasi Pengurangan Subsidi BBM (PKPS) – Infrastruktur Jalan Pedesaan  Sedang Baik Kurang Sedang Sedang

2

Bantuan Langsung Tunai (BLT)  Baik Kurang Kurang Sedang Sedang

3

Beras untuk Rakyat Miskin (RASKIN)  Baik Kurang Sedang Kurang Kurang

4

Bantuan Operasional Sekolah (BOS)  Kurang Kurang Baik Sedang Kurang

5

Jaminan Pemeliharaan Kesehatan untuk Keluarga Miskin (JPK-GAKIN)  Baik Sedang Baik Kurang Kurang

6

Proyek Pengembangan Wilayah Berbasis Pertanian Sulawesi (SAADP)  Baik Baik Baik Kurang Baik

7

Program Penyediaan Air dan Sanitasi untuk Masyarakat Pendapatan Rendah (WSLIC2)  Baik Baik Baik Baik Sedang

8

Program Pengembangan Prasarana Pedesaan (P2D)  Sedang Kurang Baik Kurang Baik

9

Proyek Kemitraan bagi Pengembangan Ekonomi Lokal (KPEL)  Sedang Baik Baik Kurang Kurang

10

Pemberdayaan Masyarakat untuk Pembangunan Desa (CERD/PMPD)  Baik Baik Sedang Kurang Kurang

11

Pembinaan Peningkatan Pendapatan Petani-Nelayan Kecil (P4K)  Baik Baik Baik Sedang Sedang

Sumber: Asia Development Bank, 2008

Berdasarkan hasil review dan evaluasi program penanggulangan kemiskinan yang dilakukan oleh Asia Development Bank (2008,h.13) terhadap berbagai program penanggulangan kemiskinan di Indonesia (lihat tabel 1.3) ternyata tidak satupun program penanggulangan kemiskinan dinyatakan baik semua dari aspek diagnosis dan analisis kemiskinan, penetapan tujuan, indikator dan target program, perencanaan, pelaksanaan serta evaluasi dan monitoring program. Rata-rata pada aspek diagnosis, analisis kemiskinan, penetapan tujuan, indikator dan target program sampai dengan perencanaan program tersebut baik namun pada pelaksanaan, monitoring dan evaluasi program kurang baik. Hal ini mengindikasikan berbagai program penanggulangan kemiskinan tersebut pada level kebijakan ”diatas  kertas” sudah relatif baik namun pada level pelaksanaan program tersebut kurang baik sehingga secara umum belum mampu menurunkan angka kemiskinan.

Main Api Terbakar

Ahmad Syafii Maarif

Kultur buram menyandera kita. Peribahasa Melayu itu selengkapnya berbunyi: ”Main api terbakar, main air basah”. Artinya, setiap perbuatan yang menyerempet bahaya atau perbuatan kotor, si pelaku harus berani menanggung risikonya, jangan dipikulkan ke atas pundak orang lain.

Peribahasa ini akan saya pakai sebagai pisau pembedah tentang karut-marutnya kultur Indonesia mutakhir di ranah politik kekuasaan, ekonomi, hukum, dan moral. Keempat ranah ini sudah bertali berkelindan sehingga amat sulit memisahkannya. Satu sama lain saling menempel dan mungkin sudah saling berselingkuh. Politik punya tujuan ekonomi, sebaliknya ekonomi perlu payung politik. Di antara keduanya posisi hukum diperlemah dan diperdagangkan. Pertimbangan moral sudah lama menguap, entah ke mana.

Harus ada jalan ke luar

Karena kondisi moral bangsa sudah demikian rapuh dan pengap, kelakuan mereka yang mengaku beragama atau yang tak hirau dengan agama sudah tidak bisa dibedakan lagi. Itulah kultur buram Indonesia sekarang yang dapat kita amati dengan gampang siang dan malam melalui berbagai media cetak, elektronik, dan dalam pembicaraan di mana-mana, di kota dan di kampung.

Di warung-warung kopi di seluruh Nusantara, Anda dapat menyaksikan dan merasakan betapa dalamnya guncangan kultural yang tengah menyandera publik dalam rentangan radius yang sangat luas. Dalam perspektif fenomenologi semuanya ini tentu menarik untuk diteropong, sekalipun benang kusutnya tidak mudah diurai dan dibongkar karena menyangkut sistem kekuasaan yang sedang berlaku.

Di tengah kultur yang menyesakkan napas itu, siapa sebenarnya yang tega main api? Apakah auktor intelektualisnya berupa sosok perorangan atau berupa kekuatan masif, kita belum bisa memastikan.

Selama auktornya tetap bersembunyi, publik akan terus meraba-raba secara spekulatif, dengan maksud baik dan damai, atau karena ingin perubahan radikal dengan segala akibatnya. Kelompok terakhir ini mewakili arus kecil dalam masyarakat yang tidak peduli lagi apakah perubahan yang dibayangkan itu akan berdarah-darah dan merusak bangunan milik publik.

Bagi mereka, itu semua risiko setiap perjuangan. Saya sendiri memang ingin perubahan, tetapi harus tetap damai, konstitusional, dan haram berdarah-darah. Kita jangan lagi membebani bahu bangsa yang sudah sarat beban yang nyaris tak terpikul. Dalam bacaan saya, semua sisi gelap di atas adalah akibat logis syahwat kekuasaan mereka yang tunamoral yang telah lama mengubur dan menjungkirbalikkan nilai-nilai luhur Pancasila.

Syahwat yang tak terkendali pasti membutakan mata, membunuh kesadaran nurani, dan di ujungnya sedang menunggu tragedi ini: bangsa dan negara akan digiring ke posisi kehilangan kedaulatan di tengah-tengah lautan kemiskinan sebagian rakyat kita. Dari sudut pandang inilah saya sangat berharap dalam tempo tak terlalu lama mereka yang telah main api cepat siuman dan tak meneruskan petualangan syahwat yang merusak sendi-sendi berbangsa dan bernegara yang susah payah dibangun selama ini. Pemain api adalah pengkhianat. Titik! Titik-titik api yang mendesak untuk dipadamkan.

Kita ambil masalah-masalah besar saja sejak tiga tahun terakhir. Dari sumber-sumber yang punya otoritas, saya mendapatkan info cukup mengerikan tentang siapa sebenarnya yang bermain api itu. Namun, untuk pengungkapannya lebih jauh sekarang, biarlah waktu yang akan memberi tahu publik pada saatnya.

Yang perlu dijaga adalah agar bangsa dan negara ini tetap utuh dan damai, tidak semakin oleng dan terkoyak-koyak. Masa depan Tanah Air yang elok ini masih bisa diselamatkan dengan syarat kita tak membiarkannya terus meluncur menjadi bangsa paria, tempat pihak neoimperialis dan agen-agen domestiknya sedang bekerja untuk itu, sadar atau tidak sadar.

Mesir di bawah Hosni Mubarak adalah contoh telanjang tentang betapa jauhnya cakar neoimperialis itu telah membius Mesir. Anda tentu sudah tidak sabar menunggu apa yang saya maksud dengan permainan api itu, bukan? Sebenarnya publik sudah tahu masalah-masalah besar itu, tetapi siapa pemain yang sebenarnya masih gaib oleh sebagian besar publik kita.

Serangkaian drama

Saya sendiri masih terus mengumpulkan data valid tentang semuanya itu. Ada beberapa kasus aneh yang perlu dibicarakan di sini. Misteri pembunuhan Nasruddin Zulkarnaen yang kemudian menyeret Antasari Azhar sebagai Ketua KPK ketika itu ke meja hijau bukan perkara sederhana. Kesaksian ilmiah ahli forensik kenamaan, Dr Mun’im Idris, yang membantah rekayasa pihak kepolisian tentang penyebab kematiannya masih dibiarkan menggantung di awang-awang. Juga kesenjangan yang sangat jauh antara tuntutan jaksa dan keputusan hakim terhadap Antasari kian menghilangkan kepercayaan publik kepada institusi penegak hukum.

Pada saatnya, drama ini harus dibongkar lagi. Jika tidak oleh penguasa sekarang, penguasa berikutnya tidak punya pilihan lain kecuali membukanya untuk publik. Pembongkaran ini akan memberi tahu kita siapa yang main api di belakang panggung politik ini. Apa kaitannya dengan perhitungan suara dalam Pemilu 2009 di tangan KPU-nya yang tidak profesional.

Drama kedua yang tidak kurang mengganggu adalah rekayasa terhadap Bibit- Chandra yang pernah ditahan dan sampai hari ini Komisi III DPR masih bersilat lidah untuk mempersoalkan kehadiran mereka di DPR. Tampak jelas di sini bahwa politik kepentingan pragmatis anggota DPR tidak bisa disembunyikan lagi.

Masih bertalian dengan kasus BibitChandra, pemberhentian Susno Duadji sebagai Kabareskrim dan kemudian memperkarakannya juga tak boleh dipandang enteng. Susno adalah saksi dan sumber kunci tentang banyak hal, seperti Daftar Pemilih Tetap pemilu, skandal Bank Century, dan tentu masih banyak yang lain. Pembungkamannya—karena disumbat mulutnya untuk berbicara kepada publik—hanya akan kian mengeruhkan kondisi politik yang memang sudah keruh. Pada saatnya, kita mungkin akan tahu peta politik sebenarnya tentang siapa bermain api di belakang penangkapan Susno ini.

Drama ketiga adalah kasus Gayus Tambunan yang nyaris mengalahkan negara. Di belakang mafia pajak ini pasti berkomplot para pejabat yang merangkap penjahat penting yang telah pula main api untuk membakar republik tercinta ini. Kasihan Indonesia yang telah dijadikan panggung bulan-bulanan oleh anak-anaknya sendiri yang sarat dusta (baca: bohong) dan dosa melalui perbuatan hitam, sementara kepemimpinan nasional terasa kian lemah dan kehilangan perspektif.

Akhirnya, Anda jangan terlalu risau. Masih ada optimisme di sini. Sekali nilai- nilai luhur Pancasila ditegakkan di ranah politik, ekonomi, hukum, dan moral; pasti akan segera ketahuan siapa yang main api selama ini dan pasti akan terbakar. Dibakar oleh kesadaran tulus dan dalam warga negara tentang perlunya pembelaan terhadap bangsa dan negara agar tidak tiarap di depan kekuatan mana pun dan di depan siapa pun. Negeri milik kita ini bukanlah negeri tempe yang tidak mampu bangkit serentak bagi suatu langkah besar ke depan secara kolektif.

AHMAD SYAFII MAARIF Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah

sumber:http://cetak.kompas.com/read/2011/02/07/03480643/main.api.terbakar

 

SEBARAN MASYARAKAT MISKIN DAN PROGRAM BANTUAN LANGSUNG TUNAI (BLT) BAGI RUMAH TANGGA SASARAN DI KECAMATAN PANCORAN MAS KOTA DEPOK JAWA BARAT


Abstract

Bantuan Langsung Tunai (BLT: Unconditional cash transfer) One of the poverty reduction program with controversial. Controversial because this program provides assistance in the form of cash which raised the commen sense that these programs make people lazy and this Program is carried out not on target. This study aims to map the distribution of the poor based on the BLT recipients database and processed using GIS software ArchView version 3.3.  Besides,  this study also identified the BLT program benefits to households in targeted (rumah tangga sasaran) in Kecamatan Pancoran Mas Kota Depok.  This descriptive research with quantitative approach.

Results showed Kelurahan Pancoran Mas is a slum area with indicator is a urban village with the most program recipients BLT program and with very poor category have the most in this urban village. When viewed from the benefit program for households, BLT program benefits to meet basic needs for poorest but the poor and near-poor category of the BLT program is a right as a citizen to obtain compensation for fuel price hike. Therefore, the poverty reduction policy should refer to the categorization of poverty: poorest, poor and near poor. For the poorest category, the social assistance programs such as the BLT program is necessary but for the poor and near-poor category of the most appropriate program is a program of community empowerment.

Keywords: Social Policy, Poverty Mapping, Unconditional Cash Transfer

untuk download silahkan klik disini

Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Penyesuaian Diri Gelandangan Dan Pengemis Di PSBK Pangudi Luhur Bekasi

ABSTRAK

This study aims to describe the self-concept, self adjustment and the relationship between self concept and adjustment of homeless people and beggars (gelandangan dan pengemis/gepeng) on the Panti Sosial Bina Karya Pangudi Luhur. Therefore, this study used a quantitative approach that will be done by cross sectional. The samples in this study using simple random sampling method.  The results showed that 1).  57% of “gepeng” have a good self-concept and 43% had bad self-concept,  52% “gepeng” a bad self-concept adjustment and 48% had a good adjustment. 2). Results of cross tabulation: 30.16% of “gepeng”  who has a good self-concept and self-adjustment well, as much as 12.70% have good self-concept but a bad adjustment, 22.22% of gepeng has a bad self-concept but a good adjustment and 34, 92% of “gepeng”  have bad self-concept and bad self-adjustment. 3). Alternative hypothesis in this study accepted that there is a relationship between self concept and self-adjustment at Gepeng on the PSBK Pangudi Luhur with positive correlation. Strength of the relationship between self concept and self-adjustment is weak, and therefore, this study can generalize the relationship of self concept and self-adjustment “gepeng” but the concept self-concept “gepeng” a bit of influence on self-adjustment. Based on these results, it can recommend: 1). For Social Worker, care and rehabilitation of “gepeng[i]” need to be adjusted based on the concept of self-2). For PSBK PL Luhur, should develop the ability of social workers in order to identify characteristics of clients who will become his responsibility. 3). For further research needs to be considered to see other factors that may affect or have relationships with self-adjustment.

Key words: Social Problem, social care and rehabilitation, social work

Untuk  download silahkan klik disini atau cuma baca klik disini


[i] Penelitian ini ditulis kembali berdasarkan hasil penelitian “ Pengaruh konsep diri terhadap penyesuaian diri gepeng di PSBK Pangudi Luhur”  tahun 2010, oleh tim penelitian yang terdiri dari: Habibullah (Puslitbang Kesos), Rahmi Fitrianti (Ditjen Dayasos), M. Azzam (Ditjen Dayasos) dan Yulia Ningrum (Pusbangtansosmas). Atas pengetahuan dan izin tim tulisan ini disempurnakan dan dipublikasikan pada jurnal ini sehingga konsekuensinya ada pada penulis

Kumpulan Publikasiku di Jurnal Penelitian Kesejahteraan Sosial & Majalah Informasi Kesejahteraan Sosial Puslitbang Kesos

Berikut ini kumpulan publikasiku yang dimuat oleh Jurnal Penelitian Kesejahteraan Sosial dan Majalah Informasi Kesejahteraan Sosial semoga bermanfaat:

  1. PEMANFAATAN LAHAN DAN SUMBER DAYA ALAM DALAM KERANGKA PEMBANGUNAN MASYARAKAT DESA SEKITAR HUTAN DI KABUPATENBATANGHARI PROPINSI JAMBI
  2. JAMINAN SOSIAL BERBASIS KOMUNITAS LOKAL ( STUDI KASUS PERKUMPULAN KEMATIAN AL-KHOIRO DI DESA ULAK KERBAU LAMA KECAMATAN TANJUNG RAJA KABUPATEN OGAN ILIR SUMATERA SELATAN)
  3. ANALISIS KRITIS TERHADAP PROGRAM KELUARGA HARAPAN
  4. IDENTIFIKASI PENGAMEN SEBAGAI UPAYA MENCARI STRATEGI PEMBERDAYAA
  5. SEBARAN MASYARAKAT MISKIN DAN PROGRAM BANTUAN LANGSUNG TUNAI (BLT) BAGI RUMAH TANGGA SASARAN DI KECAMATAN PANCORAN MAS KOTA DEPOK JAWA BARAT
  6. IMPLEMENTASI DAN STRATEGI PROGRAM COMMUNITY DEVELOPMENT (CD) PERTAMINA DAERAH OPERASI HULU (DOH) SUMATERA BAGIAN SELATAN (SUMBAGSEL) SEBAGAI WUJUD COOPERATE SOCIAL RESPONSIBILITY PERUSAHAAN PERTAMBANGAN
  7. Segera menyusul Hubungan antara konsep diri dengan penyesuaian diri di PSBK Pangudi Luhur